Tampilkan postingan dengan label Tugas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Januari 2013

Pengaruh Teknologi dalam Konsumsi Masyarakat


A.    Pendahuluan
Arus globalisasi yang semakin deras sekarang ini mengakibatkan munculnya berbagai macam hal baru di dalam kehidupan ini. Salah satu contoh yang diakibatkan karena adanya globalisasi adalah adanya layanan internet. Internet menurut Lani Sidharta (1996): secara fisik Internet adalah interkoneksi antar jaringan komputer, namun secara umum Internet harus dipandang sebagai sumber daya informasi. Isi Internet adalah informasi, dapat dibayangkan sebagai suatu database atau perpustakaan multimedia yang sangat besar dan lengkap. Bahkan Internet dipandang sebagai dunia dalam bentuk lain (maya) karena hampir seluruh aspek kehidupan di dunia nyata ada di Internet seperti bisnis, hiburan, olah raga, politik dan lain sebagainya.
Kita hidup pada era digital dimana informasi telah menjadi sebuah komoditi penting dalam kehidupan sehari-hari, bahkan menjadi kebutuhan utama bagi sekelompok atau golongan tertentu. Sekarang ini kita dapat dikatakan menjadi masyarakat yang mengkonsumsi informasi menggunakan internet. Kita telah menganggap internet sebagai kebutuhan primer, selain sandang dan pangan. Perlu kita sadari bahwa kedua kebutuhan tersebut tidak muncul sebagai sesuatu yang penting tanpa alasan atau muncul dengan tiba-tiba. Kesadaran kita telah dibentuk untuk menyadari betapa pentingnya mereka dengan menggunakan media, khususnya media massa. Kedua komoditi tersebut seakan-akan terus menerus memberikan kita kenyamanan yang pada akhirnya membuat kita tidak lagi bisa membedakan arti kata “kebutuhan” dan “keinginan”. Intinya, meskipun kita sadar akan kesadaran kita yang telah dibentuk sedemikian palsu oleh para kapitalis media dalam dunia industri media, kita sudah terlambat. Apa yang perlu kita sadari dengan segera bahwa kedua komoditi tersebut telah mempengaruhi kita dan masyarakat kita.
Media massa mempunyai peran yang penting terhadap semua proses terbentuknya kesadaran palsu yang masyarakat kita rasakan sekarang. Kemampuan alami media massa dalam menyebarkan pesan dengan karakter one-to-many menciptakan penerimaan pesan yang efektif. Bahkan tanpa kita sadari media massa telah membuat kita fokus kepada informasi dan melupakan kenikmatan berbagi informasi yang mendalam dengan orang disekitar kita. Kita menjadi aktif menanggapi informasi yang diberikan tapi menjadi lebih pasif dalam bermasyarakat.
Kemampuan media massa memang sangat mengkhawatirkan dalam hal mengolah kesadaran kita. Salah satu kemampuan media massa adalah melakukan agenda setting yaitu membuat kita berpikir tentang apa yang harus kita pikirkan. Kemampuan tersebut dapat dianggap sebagai kemampuan soft power yang mampu mengendalikan kita tanpa harus menggunakan cara yang “kasar”. Meski demikian apa arti keberadaan media tanpa kita. Fungsi dasar media adalah sebagai perantara antara komunikator dan komunikan. Kita perlu sadari bukan hanya para kapitalis dari industri media yang mampu menggunakan media massa. Kita sebagai masyarakat juga mempunyai kemampuan yang sama. Kemampuan ini yang membuat industri media tidak henti-hentinya hadir dengan beragam informasi dengan tujuan agar kita tidak menggunakan kemampuan tersebut. Mereka berusaha mengurangi jalur informasi yang lain atau jalur alternatif yang lain. Maka dari itu muncullah istilah media mainstream dan media alternatif. Media mainstream adalah media yang pegang oleh industri media dan media alternatif adalah media yang dipegang oleh mereka selain dari industri media. Kedua media mempunyai tujuan yang sama, yaitu untuk memberikan informasi kepada masyarakat, hanya saja ketika media mainstream memberitakan sebuah informasi demi keuntungan maka media alternatif akan memberitakan sebuah informasi demi hal yang lain, selain keuntungan.

B.     Gambaran Umum
Pada umumnya di seluruh dunia hampir semua orang menggunakan internet dalam kehidupan sehari-harinya, mulai dari anak-anak hingga orang tua tidak terkecuali di negara kita. Mereka menggunakan internet untuk mendukung kehidupan sehari-hari baik itu bekerja, bermain, bahkan berbelanja. Berbelanja mungkin bukanlah sebuah hal yang asing lagi bagi kita semua, apalagi berbelanja bisa dikatakan sebagai salah satu kebutuhan pokok yang memang selalu kita butuhkan setiap harinya. Banyak kebutuhan kita sehari-hari yang kita butuhkan seperti fashion, lifestyle maupun kebutuhan yang lainnya. Tidak hanya berbelanja di toko “fisik” saja masyarakat kini dapat berbelanja di toko “non fisik” atau masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah online shop dengan mengandalkan internet. Selain itu, banyak bisnis yang hadir dengan adanya internet. Berikut merupakan bisnis-bisnis online tersebut:.

Ø  Program Afiliasi
Merupakan bisnis yang menawarkan kerjasama antara pemilik situs tertentu dengan kita yang akan bertugas sebagai agen penjualan. Sebagai seorang penjual, tentunya kita ikut memasarkan dan mempromosikan produk-produk mereka. Prosentase komisi akan sangat beragam, komisi yang besar biasanya di dapat dari penjualan e-book atau software. Contoh populer adalah Commission Junction.
Ø  Reseller
Bisnis seperti ini nyaris sama dengan bisnis di atas namun untuk memulainya kita harus bergabung dan mengikuti sistem produk yang telah mereka tetapkan.
Ø  Jual Produk Informasi
Dalam bisnis ini kita menjual informasi ilmu, keahlian yang kita miliki ataupun ilmu yang didapatkan dari orang lain. Biasanya semua informasi dikumpulkan dan dijadikan e-book yang siap jual. Kalau dipikir, seharusnya informasi bisa kita dapatkan gratis di dunia internet, namun untuk beberapa situs hanya menghimbau untuk memberikan sumbangan (donation).
Ø  Bisnis Iklan
Bisnis ini cukup banyak peminatnya, karena hasilnya cukup besar. Kita bisa menjadi perantara antara orang yang memiliki produk untuk dijual (advertiser) dan orang yang menayangkan iklan di web/blog pribadinya (publisher). Atau kita juga bisa menjadi publisher, asalkan kita mempunyai situs yang memiliki trafik pengunjung yang tinggi. Ada juga bisnis Text Link
Ø  Paid To Survey (survey online berbayar)
Kita diminta untuk melakukan survei online yang bayarannya tidak terlalu besar namun menjanjikan. Caranya kita diminta mengisi form isian survei dari perusahaan-perusahaan besar yang sedang melakukan survei tentang pasar. Informasi yang saya terima untuk warga Indonesia bayarannya masih kecil, pemabayaran tebesar biasanya untuk survei di Negara Amerika, Kanada, dan Inggris.
Ø  Paid To Click
Kita diminta meng-klik iklan dan melihatnya, biasanya selam 30 detik dan kita mendapat bayaran dari kegiatan tersebut. Salah satunya seperti ClixSense atau BuxNet.
Ø  Paid To Review
Kita harus memberikan review berupa tulisan dalam blog atau pribadi yang kita miliki tentang suatu produk. Dari hasil ulasan artikel yang dimuat dalam blog/situs kita mendapatkan bayaran. Jadi ulasanmu dihargai dengan uang. Contohnya antara lain: SponsoredReviews, Buy Blog Review, Blogvertise dan AdReviewCamp.
Ø  Autosurf Program
Sebuah program yang meminta kita untuk melakukan surfing di internet, yang sebelumnya kita diminta mendaftar sebagai member. Hati-hati terhadap program ini, karena banyak yang hanya menipu (scam).
Ø  Toko Oline
Kita menjual produk melalui internet dengan membuat situs untuk memajang produk-produk tersebut, kelebihannya kita tidak perlu memiliki gudang, kita hanya perlu bekerjasama dengan produsen produk yang kita jual. Apabila kita membuat produk sendiri akan lebih leluasa, terutama dalam penentuan harga.
Ø  Content Writer
Apabila kita mempunyai kemampuan untuk menulis, kita bisa menjual hasil-hasili tulisan kita kepada pemilik blog/situs. Perlu diperhatikan bahwa sebaiknya kita menjual satu tulisan hanya kepada satu orang agar lebih unik dan tidak sama dengan yang lain. Mudah dan sederhana.
Ø  Jasa Online
Bila Anda memiliki ilmu tentang website, misalnya pembuatan web, desain web, web hosting, atau ilmu tentang pembuatan software, konsultan dan lain-lain. Dengan semua kemampuan tersebut Anda juga bisa menjadi konsultan.
Ø  Investasi Online
Kegiatan investasi (menanamkan modal/sejumlah uang) melalui internet, yang hasil akhirnya uang kita bisa bertambah tanpa harus melakukan usaha apapun. Untuk bisnis yang satu ini, saya sangat tidak menyarankan kepada para pemula, karena banyak tipu-tipu di dalamnya. Beberapa teman pernah merugi hingga puluhan juta.
Ø  MLM Bisnis
Sama dengan bisnis network marketing yang ada saat ini, hanya saja kita tidak harus bertatap muka dengan calon klien kita. Mengingat makin banyaknya jumlah pengguna internet di Indonesia bisnis ini cukup menjanjikan. Namun hati-hati Anda harus mencari perusahaan yang cukup solid dan terpercaya.
Kehidupan kalangan menengah keatas tentunya sangat lekat dengan teknologi. Teknologi ini membawa arus informasi yang sangat cepat. Teknologi pada kalangan ini juga menjadi trend dan simbol atas status mereka. Jejaring sosial digunakan untuk tempat saling tukar informasi dengan kelompok sosial mereka. Merebaknya jejaring sosial yang akhir-akhir ini banyak digandrungi masyarakat kita memberikan celah kesempatan bagi pelaku bisnis. Mereka seperti mendapatkan strategi pasar yang baru dan dapat dikatakan sangat menguntungkan. Dalam tulisan ini saya mencoba menjelaskan tentang bagaimana kemudahan yang didapat oleh masyarakat dalam berbelanja di toko online menggunakan media perantara internet dan teknologi yang sudah mereka punya saat ini.

C.    Analisis I
  • Analisis Sistem Kognitif
  • Perkembangan proses belanja secara online di Indonesia dapat dikatakan sangat terlambat dibanding negara-negara lain seperti Amerika, negara-negara di Eropa, Jepang bahkan negara tetangga kita sendiri seperti Malaysia, Singapura dan Australia. Hal itu dikarenakan kebiasaan belanja masyarakat Indonesia yang lebih senang berbelanja secara langsung ke toko “fisik”, melihat-lihat bahkan mencoba barang-barang yang ada di toko fisik seperti pakaian atau barang elektronik. Mayoritas masyarakat Indonesia kurang begitu menyukai cara berbelanja secara online. Hal itu disebabkan mereka tidak dapat mencoba barang yang akan dibeli dan masih kurang rasa kepercayaan terhadap online shop karena takut dengan beberapa hal, seperti takut adanya penipuan oleh penjual, kualitas barangnya buruk serta bentuk fisik yang bisa berbeda dengan tampilan di website. Meskipun ada pendapat seperti itu, sebagian masyarakat tetap melakukan belanja ke toko online. Salah satu faktor pendorong mereka melakukan hal itu karena mengikuti tren yang sedang booming di Indonesia. Bagi sebagian orang mengikuti sebuah tren di masyarakat dapat dianggap bahwa kita selalu up to date “banget”. Selain itu, pengaruh dari lingkungan yang ada di sekitar masyarakat itu sendiri membawa pengaruh bagi yang berbelanja di toko online. Tentunya hal tersebut yang dapat memicu sebagian masyarakat tersebut bertransaksi di toko online.
  • Analisis Sistem Evaluatif
  • Cara berbelanja pada masyarakat yang mengalami perubahan dapat kita lihat akhir-akhir ini. Mereka sekarang ini sudah bergeser menjadi konsumen dari toko “fisik” ke toko online. Hal tersebut dapat kita lihat ketika media sosial menjadi booming di kalangan masyarakat. Bagaimana media sosial dengan perantara internet yang semakin memanjakan penggunanya. Selain itu, alasan terlalu sibuk dengan rutinitas sehari-hari juga membuat mereka malas untuk pergi ke mal atau toko. Kebanyakan konsumer tidak memiliki waktu yang terlalu senggan untuk mengunjungi toko – toko fisik pada hari senin hingga jumat jadi mereka memilih untuk berbelanja secara online dimana mereka bisa mengaksesnya kapan saja baik itu menggunakan komputer, laptop, handphone maupun tablet. Alasan selanjutnya adalah soal harga yang tidak jauh bahkan kadang lebih murah menjadi alasan selanjutnya. Beberapa toko online menawarkan harga yang lebih murah daripada toko fisik. Namun, harga barang dunia maya juga bisa lebih mahal atau murah dari pasar tapi tidak terlalu beda jauh sehingga bisa menjadi pilihan. Menghemat waktu. Bagi para konsumen di kota-kota besar tentunya mereka ingin menghemat waktu dalam berbelanja. Jalanan yang macet tentu membuat mereka yang ingin berbelanja akan malas untuk pergi ke toko fisik. Namun dengan adanya toko online, calon konsumen hanya perlu satu klik untuk melihat semua produk toko dunia maya tanpa perlu takut kaku akan capek. Dengan cara ini konsumer bisa menghemat waktu lebih banyak daripada berbelanja toko fisik. Alasan selanjutnya adalah belanja online tidak harus membawa barang bawaan yang berat. Dengan berbelanja online, pembeli tidak perlu membawa belanja pulang karena barang yang dibeli akan langsung di kirim ke apartement, rumah, kontrakan atau kos yang diinginakan.
  • Analisis Sistem Simbolik
  • Sistem simbolik disini saya gambarkan dengan praktek bagaimana seseorang dapat dengan mudahnya berbelanja di dunia maya. Booming-nya media sosial di negara kita mendorong banyak dari masyarakat di negara ini memiliki smartphone untuk mendukung mobilitas sehari-harinya. Selain digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari dengan rekanan kerja fasilitas yang ditawarkan oleh smartphone saat ini sangatlah beragam. Hal tersebut dapat kita buktikan dengan dimaksimalkan kinerja dari smartphone tersebut untuk berbelanja. Mulai dari Blackberry, Iphone, Ipad, dan menjamurnya tablet-tablet saat ini digunakan untuk memanjakan penggunanya dalam belanja di toko online. Adapun cara yang mudah, cepat, dan mendapatkan barang yang kita inginkan adalah alasan belanja dengan menggunakan smartphone tersebut. Kita hanya tinggal membuka laman toko online yang kita inginkan di smartphone atau tablet kita lalu klik yang kita pilih. Untuk masalah pembayaran atau transfer uang kita tinggal membuka e-banking yang ada di smartphone atau tablet kita dan tinggal menunggu laporan saja. Hal itu menggambarkan bagaimana mudahnya hidup kita di era globalisasi ini dengan adanya teknologi dan internet.

D.    Analisis II
1.      Analisis Hubungan Sosial
Adanya jaringan internet yang memanjakan masyarakat dalam belanja online saat ini membuat hubungan sosial yang ada di masyarakat juga berbeda saat kita berbelanja di toko fisik. Perbedaan itu terlihat ketika di saat kita belanja online secara tidak langsung kita dibentuk oleh sikap individu dan seakan tidak mau berinteraksi secara langsung kepada orang lain. Hal itu disebabkan karena kita hanya menatap dan meng-klik komputer, smartphone, dan tablet yang kita punya untuk mendapatkan barang yang kita inginkan. Berbeda apabila kita belanja di toko fisik dimana kita secara langsung dibentuk untuk berinteraksi secara langsung kepada orang lain yaitu penjaga toko untuk membeli barang yang kita inginkan.
Di sisi lain kita dimudahkan dalam berbelanja, namun di sisi sebaliknya kita juga dirugikan dengan dampak negatif internet. Kurangnya interaksi sosial secara langsung (tatap muka) yang dibentuk oleh masyarakat tentu akan menimbulkan kurangnya kepekaan sosial. Masyarakat akan menjadi individual, mudah memicu terjadinya konflik karena kurangnya hubungan kedekatan antar individu yang terjalin melalui interaksi sosial secara langsung.

2.      Analisis Stratifikasi
Fenomena toko online dengan perantara internet yang semakin maju yang hadir di masyarakat tidak dapat dirasakan oleh semua orang, berbelanja online pun demikian. Tidak semua orang dapat melakukan kegiatan ini, biasanya kalangan menengah keataslah yang memanfaatkan hal ini. Mereka dengan pendapatan yang lebih dari cukup tentu pernah membeli ataupun sekedar iseng untuk membeli barang yang dijual di online shop. Faktor ekonomi di Indonesia yang tidak merata dan mengakibatkan terjadinya kesenjangan sosial juga menyebabkan toko online ini belum bisa dioptimalkan oleh masyarakat luas.
Berbeda dengan negara-negara lain dimana hampir semua masyarakatnya sangat memanfaatkan adanya toko online untuk membeli kebutuhannya, di Indonesia justru sebagian masyarakatnya belum percaya betul dengan keberadaan toko online. Selain itu, banyaknya contoh kasus penipuan di dunia maya dengan berkedok toko online pun membuat masyarakat menjadi kurang “srek” dalam berbelanja. Belum adanya hukum yang pasti mengenai perlindungan konsumen dalam berbelanja online menyebabkan terjadinya perputaran uang di bisnis online kurang berjalan baik. Akan tetapi, dewasa ini sudah banyak toko online yang memiliki kapasitas yang baik dalam menjual barang dagangannya. Hal itu tentunya perlu dukungan dari pemerintah agar bisnis di dunia maya ini dapat berlangsung aman, nyaman, dan menguntungkan bagi berbagai pihak.

E.     Kesimpulan
Munculnya berbagai fenomena-fenomena baru yang ada di sekitar masyarakat kita tentu harus disikapi secara realistis. Kita tidak boleh hanya melihat dengan sebelah sisi saja, jangan hanya menyikapi hal buruk yang terjadi karena adanya fenomena tersebut. Berbelanja online jika kita telisik lebih jauh maka banyak sekali yang kita dapatkan dari situ. Sebagaimana kita tahu baik penjual maupun pembeli jika sebuah toko online dikelola dengan manajemen yang baik maka akan menguntungkan untuk kedua pihak. Bagi penjual mereka tentu tidak perlu mengeluarkan modal yang banyak untuk menyewa atau membeli sebuah tempat guna menjual barang dagangannya. Mereka hanya bermodal barang dagangan dan selalu mengecek orderan di internet maka hal itu sangat menguntungkan bagi mereka. Sedangkan bagi konsumen sekarang ini melihat kondisi jalan yang macet, membuat mereka dimudahkan berbelanja dengan adanya toko online. Bermacam-macam barang yang dijual dengan harga yang bersaing dengan pasar atau pun toko fisik bisa kita pilih dan beli di toko online.
Teknologi sebagai perantara antara internet dan manusia untuk berbelanja di toko online juga sangat memanjakan bagi masyarakat. Kita hanya memaksimalkan kinerja dari smartphone yang kita punya untuk berbelanja. Mulai dari Blackberry, Iphone, Ipad, dan menjamurnya tablet-tablet saat ini digunakan untuk memanjakan penggunanya dalam belanja di toko online. Adapun caranya yang mudah, cepat, dan mendapatkan barang yang kita inginkan adalah alasan belanja dengan menggunakan smartphone tersebut. Kita hanya tinggal membuka laman toko online yang kita inginkan di smartphone atau tablet kita lalu klik yang kita pilih. Untuk masalah pembayaran atau transfer uang kita tinggal membuka e-banking yang ada di smartphone atau tablet kita dan tinggal menunggu laporan saja.
Fenomena yang terjadi di masyarakat tentunya memunculkan masalah baru. Salah satu contohnya adalah banyak kasus penipuan yang terjadi dengan menggunakan bisnis online. Hal tersebut tentunya sangat merugikan masyarakat, dimana masyarakat yang ingin memanfaatkan kemudahan dalam berbelanja namun justru mendapat masalah. Kehadiran pemerintah atau lembaga yang dapat mengatasi masalah ini yang diperlukan bagi keselamatan konsumen. Hukum yang dibuat lebih tegas dalam mengatur penipuan yang berkedok bisnis online harus dibuat dan dilaksanakan sebaik-baiknya merupakan solusinya. Tentunya hal tersebut agar membuat masyarakat lebih aman dalam berbalanja online. Selain itu, kurangnya interaksi sosial antar masyarakat juga harus diantisipasi oleh masyarakat lainnya agar tidak menimbulkan konflik yang berkepanjangan. 

Daftar Pustaka
A Brief History of Alternative Andactivist Media
Greber, Gle. 2008. Digital Theory: New Media
Sidharta, Lani. 1996. Internet Informasi Bebas Hambatan 2. Media Elex Komputindo: Jakarta
http://sutopo.blog.amikom.ac.id/dunia-google/mengenal-macam-macam-bisnis-onlinedi-indonesia/.
Diakses pada tanggal 10 Januari 2013


Selasa, 10 April 2012

Tradisi Merantau dan Pulang Kampung (Studi Keluarga Perantau Bukittinggi, Sumatera Barat)

Intisari
Minangkabau merupakan salah satu suku bangsa yang ada di Indonesia. Minangkabau masuk ke dalam propinsi Sumatera Barat. Banyak terdapat budaya-budaya yang ada pada masyarakat Minangkabau sendiri. Budaya-budaya tersebut antara lain merantau, pulang kampuang basamo, menggaleh, dan sebagainya. Dalam paper ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai budaya merantau dan pulang kampung dalam keluarga yang berasal dari Bukittinggi, Sumatera Barat. Dalam penelitian ini saya menggunakan metode kualitatif atau lebih tepatnya metode wawancara. Merantau merupakan suatu budaya yang identik dengan masyarakat Minangkabau. Hampir di seluruh penjuru dunia merupakan tujuan rantau mereka. Meskipun mereka banyak yang sukses di tanah rantau, pastilah mereka tidak akan lupa dengan kampung halamannya. Dengan masa tertentu banyak dari mereka yang melakukan pulang kampung bersama.
Kata kunci: Merantau, Pulang Kampung

Pendahuluan
Merantau berarti migrasi, tetapi merantau adalah tipe khusus dari migrasi dengan konotasi budaya tersendiri yang tidak mudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau bahasa barat manapun. Merantau merupakan istilah Melayu, Indonesia, dan Minangkabau yang sama arti dan pemakaiannya dengan akar kata rantau.
Suatu ciri atau yang dengan mudah ditandai dan dilihat yang merupakan ciri dari etnis Minang adalah bahwa etnis ini dikaruniai bakat perantau yang ulung. Mereka terkenal dengan daya membaurnya yang tinggi, mampu beradaptasi dengan cepat dengan lingkungannya. Di seantero negeri ini, kita tidak pernah mendengar adanya Kampung Padang atau Kampung Minang. Hal ini dikarenakan mereka bukanlah etnis yang mengeklusifkan diri, tetapi tetap ekslusif unik. Kegiatan yang mereka pilih umumnya adalah di bidang jasa yang dibutuhkan orang banyak. Kalau membuka usaha, adalah usaha yang memang dibutuhkan orang banyak seperti rumah makan, tukang jahit, fotokopi, kelontong, toko buku atau dakwah. Daerah Minangkabau sebagai daerah teritorial kultur Minangkabau meliputi hampir tiga propinsi yaitu Propinsi Sumatera Barat, sebagian dari Propinsi Jambi, dan Propinsi Riau bagian daratan.
Semangat kerukunan yang bermuara dari bakat daya baur antar etnis ini yang diajarkan oleh adat dan budayanya “di mano bumi dipijak di sinan langit dijunjuang” ( dimana bumi dipijak di sana langit dijunjung) dikaitkan dengan “kalau buyuang pai marantau induak cari dunsasanak cari, induak samang cari dahulu” (kalau buyung pergi merantau cari orang tua (dituakan), cari saudara, terlebih dahulu mencari induk semang) artinya adalah “sandaran” atau landasan berpijak di daerah baru yang perlu dicari dan dikokohkan lebih dahulu. Ini adalah ajaran turun-temurun yang mendarah daging, terbukti, dan teruji mempunyai nilai yang sangat tinggi yang makin dirasakan saat ini.
Suatu efek merantau bagi etnis Minang, semula menurut Mochtar Naim merupakan “klep” yang mengatur tata keseimbangan (teori ekuilibrium) penduduk. Orang-orang tergerak untuk merantau bila keseimbangan antara faktor-faktor demografi dan ekonomi terganggu. Dengan demikian merantau menumbuhkan efek penawar dengan memberikan jalan kepada penduduk “redual” untuk mencari hidup di tempat lain.
Bagi laki-laki Minang merantau erat kaitannya dengan pesan nenek moyang “karatau madang di hulu babuah babungo balun” (anjuran merantau kepada laki-laki karena di kampung belum berguna). Dalam kaitan ini harus dikembangkan dan dipahami, apa yang terkandung dan dimaksud “satinggi-tinggi tabangnyo bangau kembalinya ke kubangan juo”. Ungkapan ini ditujukan agar urang Minang agar akan selalu ingat pada ranah asalnya.
Ciri dari etnis Minang lainnya yang menonjol adalah budaya Menggaleh, budaya berdagang. Walaupun tidak sedikit urang Minang yang bekerja di pemerintahan, mempunyai profesi lainnya yang cukup banyak jumlahnya dan berhasil, tetap saja yang menonjol atau dikenal umum itu adalah profesi dagangnya. Bahkan karena keuletannya sampai diberi julukan “yang mampu menyaingi orang Cina” dan bahkan diberi gelar sebagai “Minankiaw”. Menurut kebanyakan orang Minang faktor ekonomilah yang mempengaruhi mereka untuk merantau
Naim (di Richmond, 1976:150) mendefinisikan merantau: “Leaving one’s cultural territory voluntarily whether for a short or long time, with the aim of earning a living or seeking further knowledge or experince, normally with the intention of returning home.”[1] Mayoritas perantau itu berumur rata-rata 35 tahun untuk laki-laki dan 28 tahun untuk perempuan.
Migrasi masyarakat Minangkabau atau merantau adalah perpindahan tradisional, institusional dan normatif (Provencher, 1976; Naim, 1978)[2]. Perpindahan ini ada hubungannya dengan siklus kehidupan dan setiap perpindahan tidak berarti merupakan komitmen untuk berdiam seterus-terusnya di daerah rantau tertentu. Kato (1982:82) menemukan adanya suatu perubahan besar dalam tradisi merantau setelah Perang Dunia II. Setelah perang, merantau secara eksklusif terkait dengan keluarga inti. Pola merantau dengan meninggalkan daerah asalnya dengan mengajak keluarga, atau seorang suami pergi merantau lebih dahulu, baru kemudian mendatangkan isteri dan anak-anaknya (Kato 1982:30). Pola merantau ini di kalangan orang Cina dikenal dengan sebutan “rantau Cina” (rantau Cino)[3]. Kaum perantau Minangkabau ini cenderung tinggal lebih lama dan untuk mendapatkan kehidupan lebih mapan, ketimbang mereka yang merantau sebelum 1950. Mereka kembali menjenguk desanya sekali atau dua kali setahun.
Dalam kedua pola migrasi itu, sebelum dan sesudah 1950, suku bangsa Minangkabau selalu memakai kesempatan pulang kampung untuk memamerkan kekayaan, pengetahuan, dan prestige. Perubahan dan kebertahanan dari tradisi merantau Minangkabau harus dimengerti dalam pandangan dunia Minangkabau (Alam Minangkabau). Fungsi dari Alam Minangkabau sendiri adalah untuk memperkaya dan menguatkan alam Mianagkabau, ini merupakan dasar dari misi budaya yang menggerakkan orang Minangkabau untuk merantau.

Orang Minangkabau mendorong kaum muda untuk merantau, namun ketika mereka kembali ke daerah rantau atau pulang ke kampung halaman, mereka harus membawa sesuatu, harta, atau pengetahuan, sebagai simbol berhasilnya misi mereka. Kalau tidak, maka mereka tidak akan diterima oleh sesama orang kampung, mereka dianggap telah gagal menjalankan misinya. Tidak ada muka manis bagi perantau yang gagal. Mereka harus kembali lagi ke daerah rantau dan berusaha lagi atau larut di rantau atau tidak usah pulang (laruit di rantau urang). Inilah salah satu penyebab dari rantau Cino (migrasi permanen) oleh sebagian masyarakat Minangkabau. Pada tipe rantau sebelumnya yang berlangsung sampai puluhan ke dua atau tiga abad ini, orang-orang muda pergi merantau, namun beberapa waktu kemudian kembali ke kampung. Kampung bagi mereka tetap merupakan basis, sedang merantau berarti perulangan dalam mencari rejeki ke luar daerah.
            Sebuah ciri penting yang perlu dicatat dalam hal merantau orang Minangkabau sekarang dalam aspek okupasi adalah bahwa walaupun mereka semua berasal dari keluarga petani di desa-desa di Sumatera Barat namun kenyataannya di rantau yang baru tidak satupun di antara mereka yang memegang pekerjaan yang sama dengan yang sebelumnya di kampung mereka. Bagi orang Minangkabau tanah adalah yang terakhir yang mereka pikirkan, yang mungkin selalu dipikirkan oleh mereka di rantau adalah bagaimana membeli sebidang tanah di kampung atau menebus sawah yang tergadai untuk ibu dan saudara perempuan mereka segera setelah sanggup mengumpulkan uang dari pekerjaan di rantau. Lebih singkatnya adalah orang Minangkabau selalu berpikir balik ke kampung dan memanfaatkan pergi merantau sebagai alat untuk penunjang dan memantapkan kehidupan di kampung.
            Budaya merantau sendiri tentunya disebabkan oleh adanya bermacam-macam faktor pendorong. Faktor pendorong merantau dalam masyarakat Minangkabau sendiri yaitu:
a.       Faktor-faktor fisik: Ekologi dan Lokal
Dilihat dari segi ekologinya bentuk fisik pedalaman Sumatera Barat yang terletak di sepanjang pegunungan Bukit Barisan yang subur. Letak ini sangat cocok untuk pertanian dan orang Minangkabau telah mengembangkan keterampilannya dalam bidang pertanian. Hal tersebut dapat dilihat bahwa 25% dari penduduk kota di Sumatera Barat masih bekerja di bidang ini. Akan tetapi, karena bertambahnya populasi manusia diperkirakan tanah yang tersedia tidak akan cukup untuk memberi hidup orang yang jumlahnya selalu bertambah, maka dari itu dorongan untuk merantau menjadi semakin kuat. Menurut lokasinya sendiri, Minangkabau adalah daerah yang terpencil (di luar pusat kegiatan perdagangan dan politik). Keadaan ini menyebabkan dunia luar tidak mendatangi Minangkabau tapi orang Minangkabau yang harus pergi ke dunia luar.
b.      Faktor ekonomi dan demografi
Faktor ini mempunyai hubungan dengan faktor sebelumnya, dorongan merantau karena faktor ekonomi disebabkan oleh adanya lahan pertanian yang sudah tidak banyak lagi untuk mencukupi masyarakat yang tambah banyak. Salah satu di antara alasan primordial untuk pergi merantau adalah perjuangan ekonomi ini. Dorongan untuk merantau karena alasan ekonomi tentu saja akan lebih kuat terasa bila sawah tidak lagi mencukupi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, dapat dikatakan bahwa kurangnya sarana kehidupan yang terdapat di Sumatera Baratlah yang mendesak penduduknya merantau, oleh karena sarana kehidupan di rantau lebih mudah didapat.
c.       Faktor Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor pendorong yang penting pergi merantau, terutama semenjak berkembangnya sekolah-sekolah sejak bagian pertama abad ini. Merantau dengan tujuan mencari pendidikan selalu akan terbatas pada segolongan kelompok saja. Meskipun terbatas hanya pada golongan tertentu, faktor ini menjadi faktor pendorong yang mampu merangsang lainnya, seperti pelajar yang merantau membukakan jalan untuk pelajar berikutnya. Sebenarnya konsep asli dari merantau itu sendiri adalah mencari ilmu dan pengalaman untuk mempersiapkan diri untuk dapat hidup berguna di kampung nanti sesudah kembali dari rantau. Faktor ini mulai terasa sejak 1920-an, tapi mulai menurun pada tahun 1960-an disebabkan dengan membaiknya fasilitas pendidikan di Sumatera Barat sendiri.
d.      Daya Tarik Kota
Daya tarik kota, juga merupakan faktor pendorong merantau karena di kota segala ide kemajuan dilaksanakan dan kesempatan kerja banyak disana. Selain dirasakan oleh golongan pelajar, daya tarik ini juga dirasakan oleh para pedagang. Hal tersebut disebabkan pusat-pusat kota pasarnya selalu buka tiap hari dan jual-beli sering terjadi tidak seperti di desa. Daya tarik kota ini baru dirasakan setelah 1930-an dan puncaknya pada tahun 1950-an.
e.       Faktor Keresahan Politik
Faktor keresahan politik terjadi dua kali di Sumatera Barat dan itu menyebabkan migrasi masyarakat lokal. Pertama semasa pemberontakan komunis di akhir 1920-an dan kedua selama pergolakan daerah (PRRI) di akhir 1950-an yang menyebabkan eksodus besar-besaran ke kota-kota besar.
f.        Faktor Sosial
Faktor sosial ini dapat dikatakan bahwa pada mulanya merantau itu disebabkan adanya kebutuhan untuk mencari tanah baru diluar perkampungan sendiri yang membuat kaum pria meninggalkan keluarganya dalam jangka waktu tertentu. Seiring berjalannya waktu, pengertian merantau sekarang bukan lagi perluasan wilayah, tetapi berdagang dan mencari kehidupan baru di kota-kota perantauan. 
g.       Arus baru
Dalam hal ini arus baru digambarkan dengan kehidupan masyarakat yang tinggal di perantauan. Mereka hidup dengan mengikuti adat rantau, dimana suami istri bersama-sama mengatur rumah tangga, menanggalkan sikap matrilinealnya.

Latar Belakang Masalah
Seberapa jauh faktor yang mempengaruhi budaya Minangkabau dalam kebiasaannya merantau.
Tujuan Penelitian
            Tujuan penelitian secara umum ini adalah untuk melengkapi tugas akhir mata kuliah etnografi Minangkabau. Selain itu, tujuan secara khusus penelitian ini untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi budaya suku bangsa Minangkabau untuk lebih memilih merantau daripada memilih berdomisili di tanah kelahirannya.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data baik data sekunder maupun primer. Untuk data primer didapat melalui interview dan data sekunder didapat dari data yang telah ada yaitu studi pustaka.
Pembahasan
Untuk menunjang data dalam paper ini maka saya mencoba untuk mewawancarai orang Sumatera Barat lebih tepatnya kota Bukittinggi. Kota Bukittinggi saat ini mempunyai luas  +  25.239 km­­­­­­­­­ 2 terletak ditengah-tengah Propinsi Sumatera Barat dengan ketinggian antara 909 M – 941 M diatas permukaan laut. Suhu udara berkisar 17, 1o­­­­­­­­­­ C sampai 24,9o C, merupakan iklim udara yang sejuk. Posisinya yang strategis merupakan segitiga perlintasan menuju ke utara , timur dan selatan Sumatera. Topografi kota yang berbukit dan berlembah dengan panorama alam yang elek serta dikelilingi oleh tiga gunung, Merapi, Singgalang dan Sago seakan menjadi tonggak penyangga untuk memperkokoh Bukittinggi. Inilah yang menyebabkan Bukittinggi disebut juga sebagai “ Kota Tri Arga”. Kota Bukittinggi saat ini terdiri atas 3 kecamatan dengan 24 kelurahan.
Bukittinggi akan mengadakan perubahan batas wilayah, dengan memasukkan sebagian wilayah Kabupaten Agam ke dalam wilayah kota Bukittinggi, sehingga nantinya kota Bukittinggi mempunyai luas 145,299 km2 yang terdiri dari 7 kecamatan dan 58 kelurahan/desa dengan jumlah penduduk 175.452 jiwa. Kota bukittingi berbatasan dengan kecamatan dalam wilayah Kabupaten Agam, yaitu :
  • Sebelah Utara dengan Kecamatan Tilatang Agam
  • Sebelah Selatan dengan Banuhampu Sungai Puar
  • Sebelah Barat dengan IV Koto
  • Sebelah Timur dengan IV Angkat Candung
Sebagian besar penduduk kota Bukittinggi beragama Islam sekitar 97,89 % dan selebihnya beragama Katolik, Protestan, Budha dan Hindu. Penduduk terpadat berdomisili di kecamatan Guguk Panjang, karena pusat perdagangan dan kegiatan laian sebagian besar berada di kecamatan tersebut dengan kepadatan rata-rata 5.531 jiwa/km.
Pertama saya akan menjelaskan tentang budaya merantau yang ada di dalam keluarga tersebut. Informan saya ini tidak lain adalah teman SMA saya sendiri. Di keluarga teman saya ini yang berasal dari Bukittinggi adalah ayahnya, yang bernama Herman Gazali. Untuk hal nama keluarga, setelah saya tanyakan ternyata teman saya kurang tahu dengan nama keluarganya. Akan tetapi, saya diberikan silsilah nenek moyang keluarganya yang ada di kampung halamannya. Di sini saya akan mencoba menjelaskan sejarah nenek moyangnya bernama Tjoa Kim Lie, yang berasal dari propinsi Hokkian, Tiongkok. Pada saat beranjak dewasa dia memilih hidup merantau dari pada disuruh mengolah sawahnya di desanya. Sebagai langkah awal perantauannya Tjoa Kim Lie memilih merantau ke pulau Bangka. Pada saat di tanah rantau tersebut dia bertemu dengan seorang dara asal Pariaman yang bernama Tjioe Soan Nio. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk merantau ke Bukittinggi, Sumatera Barat. Di Bukittinggi Tjoa Kim Lie memulai karirnya sebagai seorang anemer pembangunan jalan Bukittinggi – Padang dan Bukittinggi – Lubuk Sikaping. Disamping sebagai anemer pembangunan jalan, Tjoa Kim Lie memanfaatkan sisa waktu yang ada, sebagai leverensir. Rupanya selama menjadi leverensir, Tjoa Kim Lie melihat peluang baru yang lebih menjanjikan yaitu berdagang hasil bumi, antara lain: Kasiavera/kulit manis, cengkeh, damar, karet, dan biji pala.
Tjoa Kim Lie pernah pulang ke kampung halamannya di Tiongkok. Hal ini terjadi ketika lahir anak ke lima, itu pun karena janji Tjoa Kim Lie yang apabila lahir seorang anak laki-laki maka Tjoa Kim Lie akan pulang ke kampungnya, hal itu disebabkan anak pertama hingga keempat Tjoa Kim Lie perempuan semua. Sekembalinya dari Tiongkok, Tjoa Kim Lie melanjutkan usaha berdagangnya. Dengan perdagangan yang maju, anak, menantu, dan cucu yang bertambah terus maka diawal abad ke 19, Tjoa Kim Lie membangun sebuah “Rumah Gadang” di Jalan Ahmad Yani No. 78, Bukittinggi sebagai “Rumah Keluarga Besar Tjoa Kim Lie” dan membentuk suatu ikatan keluarga yang bernama keluarga “Agam”.
 Ayah teman saya dulu merantau pada tahun 1970-an atau setelah lulus SLTA, beliau merantau sendiri. Kota tujuan rantau beliau adalah Jakarta, meskipun beliau merantau sendiri, namun di Jakarta ada saudara-saudara yang dituju untuk mencari link atau informasi dalam hal mencari pekerjaan. Pekerjaan pertama beliau di tanah rantau adalah kerja serabutan seperti menjadi sopir, bantu-bantu di rumah makan, dan sebagainya. Dalam ranah rantau itu beliau menemukan tambatan hatinya yaitu bernama ibu Suyatini yang ternyata sama-sama merantau, namun ibu Suyatini berasal dari Jogjakarta. Setelah menikah mereka tinggal di Jakarta selama 12 tahun. Mereka mencoba untuk membuka usaha pertamanya yaitu mie ayam di Jakarta selama 6 tahun. Pada saat lahir anak ketiga mereka memutuskan untuk kembali ke Jogjakarta. Di sini mereka kembali membuka usaha yaitu rumah makan Padang yang terletak di depan Grahsia Pakem. Selain bapaknya teman saya dalam anggota keluarganya juga melakukan hal yang sama yakni merantau seperti yang dilakukan oleh kerabat-kerabatnya ke daerah tujuan rantau lainnya seperti Padang dan Palembang.
Dalam hal pulang kampung menurut informan saya pada saat pulang kampung biasanya ada proses penyambutan yaitu dengan acara makan-makan bersama dengan keluarga besar, hal itu dilakukan apabila ada rejeki yang lebih. Akan tetapi, apabila tidak ada rejeki lebih pulang kampung tidak ada acara penyambutan atau dengan kata lain pulang kampung seperti biasa. Di keluarga informan saya pada saat pulang kampung ke Bukittinggi semua anggota keluarga diajak. Berhubung ayah dari teman saya sudah meninggal jadi keluarganya baru sekali pulang kampung. Meskipun demikian, hasrat atau keinginan untuk pulang kampung masih sangat ingin dilakukan oleh informan saya. Hal tersebut menurut informan saya dilatar belakangi oleh kampung halaman dimana kotanya yang nyaman dengan suasana yang sejuk, perempuan yang putih-putih, namun kebutuhan sehari-hari disana lebih mahal daripada di Jawa.

Kesimpulan
Merantau seperti yang sudah diutarakan di dalam bab sebelumnya yang memiliki arti migrasi yang identik dengan masyarakat minangkabau. Masyarakat Minangkabau terkenal sebagai perantau yang ulung. Kota tujuan rantau adalah di kota-kota besar. Setelah berada di tanah rantau, tentu kerinduan yang ada di dalam orang Minangkabau yang merantau. Rasa tersebut menimbulkan budaya baru yang disebut pulang kampung bersama. Pulang kampung tanpa membawa hasil dari tanah rantau tentunya bisa dianggap mereka gagal dalam rantauannya. Selain itu, ada yang mengatakan bahwa seseorang yang gagal dalam rantauannya harus kembali ke tanah rantaunya atau larut ke dalam masyarakat rantaunya. Akan tetapi, menurut saya hal ini sudah jarang diterapkan pada masa sekarang.
Untuk mengetahui budaya merantau, saya mencoba untuk mendapatkan data primer dengan cara mewawancarai salah satu orang Minangkabau atau lebih tepatnya orang Bukittinggi, Sumatera Barat. Ayah informan saya tersebut juga melakukan budaya merantau seperti orang-orang Minangkabau lainnya pada saat remaja. Kota tujuan rantau beliau adalah Jakarta. Selain dikenal sebagai perantau yang ulung, orang Minangkabau juga dikenal mempunyai etos kerja yang tinggi dan ulet. Hal tersebut dapat digambarkan dengan ayah informan saya yang pada saat merantau dia bekerja serabutan. Setelah bekerja serabutan dan memiliki istri, beliau mencoba untuk membuka usaha di tanah rantaunya dan ternyata berhasil hingga beliau memutuskan untuk berpindah ke kota istrinya di Jogjakarta.
Pulang kampung menurut pandangan informan saya adalah dimana kita pulang ke kampung halaman bersama keluarga besar lainnya. Setelah sampai di kampung halamannya, maka akan diadakan acara penyambutan bagi mereka yaitu dengan bentuk makan-makan bersama. Akan tetapi, acara penyambutan tersebut hanya diadakan ketika mempunyai rejeki yang lebih, ketika tidak maka pulang kampung hanya sekedar kumpul-kumpul dengan keluarga lainnya.

Kepustakaan:

Sumber dari buku:
Latief, N, CH, Bandoro, DT.2002. Etnis dan Adat Minangkabau, Permasalahan dan Hari Depannya. Angkasa: Bandung.
Murad, Auda.1980. Merantau: Outmigration in a Matrilinieal Society of West Sumatra. Australian National University: Canberra
Pelly, Usman.1994. Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing. Pustaka LP3ES: Jakarta
Naim, Mochtar.1984. Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.
Hakimy, Idrus.1978. Pokok-Pokok Pengetahuan Adat Alam Minangkabau. PT Remaja Rosdakarya: Bandung
Anan, Gusti, 2005, Adat Minangkabau dan Merantau dalam Perspektif Sejarah,
Akiko Iwata Balai Pustaka, Jakarta.
Naim, Mochtar, 1973, Perkembangan Kota-Kota di Sumatra Barat, Prisma,
Padang.
Delly, H.S.M, dkk.1993. Pembinaan budaya dalam lingkunan keluarga di
daerah Sumatera Barat. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Komunikasi Personal:
Rudiyanto (Wawancara pada tanggal 5 Januari 2012)
Sumber Elektronik/Online:
http://www.bukittinggikota.go.id/
Diunduh pada tanggal 17 Januari 2012, pukul 19.22 WIB



[1] Dikutip dari buku Merantau: Outmigration in a Matrilinieal Society of West Sumatra
[2] Dikutip dari buku Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing hal. 8
[3] Dikutip dari buku Urbanisasi dan Adaptasi: Peranan Misi Budaya Minangkabau dan Mandailing hal. 9

Jumat, 23 Maret 2012

Pendidikan Bagi Masyarakat Pesisir (Desa Bulu, Tuban)

Pendahuluan
    Indonesia merupakan Negara Kepulauan dengan jumlah pulau yang mencapai 17.508 dan panjang garis pantai kurang lebih 81.000 Km (DKP, 2008). Keadaan ini menyebabkan kawasan pesisir menjadi andalan sumber pendapatan masyarakat Indonesia. Dengan potensi yang unik dan bernilai ekonomi tadi maka wilayah pesisir dihadapkan pada ancaman yang tinggi pula, maka hendaknya wilayah pesisir ditangani secara khusus agar wilayah ini dapat dikelola secara berkelanjutan. Akan tetapi, yang menjadi hambatan dalam pengembangan potensi ekonomi adalah dalam hal rendahnya pendidikan yang ada pada masyarakat pesisir laut.
    Tujuan dari pembuatan paper ini adalah untuk menyelesaikan tugas akhir mata kuliah antropologi kependudukan. Selain itu, saya sendiri tertarik untuk mengetahui pola pendidikan pada masyarakat pesisir. Hal ini dapat kita soroti bagaimana pendidikan yang ada pada masyarakat pesisir mayoritas masih kurang, tentunya itu menyebabkan kualitas sumber daya manusia yang kurang begitu bagus. Maka dari itu saya mencoba menjelaskannya di paper ini.
Pembahasan
·                  Demografi Daerah Bulu
Bulu merupakan daerah pesisir yang terletak di sebelah barat perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur atau lebih tepatnya berada di Kabupaten Tuban. Daerah Bulu dengan kondisi geografis utara laut dan sisi selatan daerah persawahan. Kondisi geografis ini memacu masyarakat untuk berinisiatif memanfaatkan sumber daya alam dengan pengelolaan laut dan persawahan. Pada daerah laut masyarakat Bulu bermata pencaharian  sebagai nelayan dan peternak udang, hampir kurang lebih 75% masyarakat Bulu bermata pencaharian sebagai nelayan. Di sisi lain pada pemanfaatan hasil laut selain mata pencaharian nelayan juga sebagai pengusaha ikan, yaitu dengan pengolahan ikan kering atau ikan asap dan pengemasan ikan.
Di sisi kawasan Bulu bagian selatan masyarakatnya memanfaatkan sebagai lahan pertanian. Kondisi geografis dengan daerah dataran rendah menjadikan masyarakat memanfaatkan daerah selatan sebagai daerah persawahan (daerah dengan tangkapan air yang tinggi) sehingga masyarakat memanfaatkan lahannya untuk menanam padi. Kebanyakan dari masyarakat mengisi rutinitasnya dengan menyibukkan dirinya di dua bidang pekerjaan yaitu sore hari dengan melaut dan pada pagi hari dengan beternak dan bertani.
Siklus kehidupan masyarakat Bulu setiap harinya hampir 95% melakukan rutinitas seperti keterangan di atas. Hal ini akan menghambat informasi dari luar untuk masuk ke dalam. Budaya masyarakat seperti itu dan dipengaruhi oleh kuatnya faktor agama di daerah pesisir menjadi salah satu penyabab tingkat kelahiran yang besar sehinga daerah Bulu dapat dikatakan sebagai daerah padat penduduk. Hal ini dapat dibuktikkan dengan jumlah rata-rata satu KK teridir dari 5-6 orang (ayah, ibu, dan anak-anak). Tentunya hal tersebut akan menjadi kendala ketika keseimbangan ekonomi dan kebutuhan keluarga tidak tercukupi. Dalam bab ini yang akan dibahas program MDG’s pada sub pendidikan akan menjadi menarik ketika diinterpretasikan pada budaya pesisisr.
Seperti yang sudah dibahas di atas daerah Bulu yang merupakan daerah padat penduduk dengan rutinitas kesibukan yang monoton menjadikan daerah tersebut dengan tata letak wilayah yang tepat sehingga jarang terdapat lahan kosong atau ada kawasan perkampungannya. Kawasan yang padat penduduk dengan rutinitas yang sama menjadikan daerah tersebut sebagai daerah dengan masalah yang kompleks. Permasalahan yang sedikit akan menyebar secara cepat, hambatan informasi dari luar untuk masuk ke dalam mengakibatkan isu konflik yang berkepanjangan yang dalam hal ini adalah masalah antar keluarga. Kurangnya pengetahuan dan minimnya pendidikan yang ada di desa menjadikan keributan sebagai solusi atas keributan yang terjadi. Padatnya penduduk masyarakat pesisir secara tidak langsung mempengaruhi emosi masyarakat secara cepat. Hal ini di sisi positif masyarakat akan mudah dipengaruhi oleh satu isu atau satu figur yang mempunyai tingkat kepercayaan tinggi oleh mereka, sehingga isu-isu positif maupun negatif akan secara cepat menyebar pada kehidupan masyarakat pesisir, hal ini tergantung pada media yang akan mengarahkan isu-isu tersebut (tokoh masyarakat).
Kebiasaan keluarga masyarakat pesisir digambarkan seorang kepala rumah tangga akan banyak mengisi kesibukannya setiap hari dengan melaut dan bertani sedangkan seorang ibu rata-rata menjadi ibu rumah tangga dan rata-rata anak-anaknya dengan umur 17 tahun ke atas dia akan ikut melaut keluarganya dan 17 tahun ke bawah akan mengisi kesibukannya dengan bersekolah dan bermain. Minimnya perkembangan perekonomian di daerah pesisir yang menjadi salah satu alasan yang menjadi pemicu kebiasaan keluarga seperti diatas.
·         Pendidikan Masyarakat Pesisir
            Pendidikan yang seharusnya menjadi perhatian penting dalam masyarakat yang pada hal ini sesuai dengan tujuan Millenium Development Goal’s adalah satu program yang seharusnya diprioritaskan pada masyarakat pesisir, namun hal ini yang terjadi pada masyarakat pesisir pantai tuban menjadi tujuan sampingan yang ada pada pola atau pemikiran masing-masing keluarga, hal ini terbukti dengan tingkat pendidikan yang rendah, rata rata tingkat pendidikan masyarakat pesisir berhenti sampai batas SMP atau SMA saja. Hal ini dipengaruhi dengan beberapa faktor diantaranya yaitu, faktor ekonomi, faktor lingkungan, faktor keluarga
Ø  Faktor ekonomi.
Kurangnya informasi dan anggapan penting pengetahuan menjadikan pola ekonomi masyarakat pesisir yang stagnan (tetap pada posisi), sehingga perkembangan ekonomi masyarakat pesisir juga kurang berkembang, cara mendapatkan penghasilan yang singkat yang dalam hal ini adalah sebagai seorang nelayan, (untuk mendapatkan penghasilan tanpa harus membutuhkan ijazah atau legalitas dari akademika) dan penghasilan yang selalu digantungkan setiap hari, sehingga mempengaruhi pola keluarga dalam mengatur keuangan keluarga secara sederhana (satu hari dapat satu hari habis) hal ini karena pola pemikiran kekayaaan laut yang masih tersedia setiap hari. Pola tersebut sehingga susah untuk dikembangkan secara jangka panjang atau diinvestasikan. Dengan pola seperti diatas kebutuhan pokok akan pengeluaran keuangan lebih dipentingkan kebutuhan pokok/sampingan keluarga (properti) di banding dengan kebutuhan pendidikan, kurang pentingnya anggapan pendidikan juga dipengaruhi dengan masa depan pekerjaan yang sudah pasti bagi pandangan masyarakat pesisir (bekerja sebagai seorang nelayan), selain hal tersebut, kurangnya perkembangan ekonomi keluarga juga memicu anak-anak untuk mandiri dalam mendapatkan hasil keuangan dibandingkan dengan pentingnya pendidikan.
Ø  Faktor Lingkungan
Dalam bagian ini akan diuraikan sedikit tentang pengaruh lingkungan terhadap pendidikan masyarakat pesisir. Dunia pendidikan yang banyak dialami pada anak-anak menjadi fenomena terbalik ketika dihadapkan pada masyarakat pesisir. Lingkungan masyarakat yang sudah mengenalkan cara mendapatkan uang dengan mudah bahkan anak-anak pun ikut andil dengan mudah untuk mendapatkannya, merubah perilaku anak-anak yang seharusnya mengemban dunia pendidikan di balikan menjadi perilaku selayaknya orang dewasa pada umumnya, hal ini dipacu dengan kemampuan mereka untuk menghasilkan uang sendiri. Sehingga pada hal ini lingkungan anak-anak lebih terbiasa untuk melakukan perilaku orang dewasa. Pola seperti ini mengarahkan anak anak untuk mengisi kesibukanya dengan kegiatan kegiatan orang dewasa dari pada mengisi keseharianya dengan menemban pendidikan. Lebih frontalnya kebiasaan kebiasaaan orang dewasa yang belum bisa di saring oleh anak-anak juga akan mempengaruhi mereka untuk bertindak kriminal.
Ø  Faktor Keluarga
Dalam tulisan ini akan dijelaskan bagaimana kurang pentingnya peran keluarga dalam melihat pendidikan sebagai hal penting terhadap masa depan anaknya. Di dalam masyarakat pesisir, orang tua menganggap pendidikan itu kurang penting. Hal ini dapat dilihat ketika anak-anak yang sudah menginjak usia produktif atau 17 tahun ke atas banyak yang disuruh untuk bekerja ketimbang melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Hal tersebut dipengaruhi oleh pola pandang orang tua yang secara turun-temurun yang lebih mementingkan mencari uang. Selain itu, faktor ekonomi yang pas-pasan membuat orang tua pikir-pikir dalam hal menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.
Kesimpulan
Kawasan pesisir seharusnya menjadi andalan sumber pendapatan masyarakat Indonesia. Dengan potensi yang unik dan bernilai ekonomi, maka wilayah pesisir dihadapkan pada ancaman yang tinggi pula, maka hendaknya wilayah pesisir ditangani secara khusus agar wilayah ini dapat dikelola secara berkelanjutan. Akan tetapi, yang menjadi hambatan dalam pengembangan potensi ekonomi adalah dalam hal keterbatasannya sumber daya manusia yang ada di sana. Hal ini disebabkan oleh kurangnya antusiasme masyarakat pesisir terhadap pendidikan (dalam hal ini untuk mengembangkan pengetahuan mereka).
Pendidikan yang seharusnya menjadi perhatian penting dalam masyarakat yang pada hal ini sesuai dengan tujuan Millenium Development Goal’s adalah satu program yang seharusnya diprioritaskan pada masyarakat pesisir, namun hal ini yang terjadi pada masyarakat pesisir pantai Tuban khususnya daerah Bulu menjadi tujuan sampingan yang ada pada pola atau pemikiran masing-masing keluarga yang ada di pesisir. Hal ini dipengaruhi dengan beberapa faktor diantaranya yaitu, faktor ekonomi, faktor lingkungan, faktor keluarga yang kurang mendukung.